Kamis, 10 Mei 2018 17:56 WITA

GM Grand Sayang Hotel: Melayani Adalah Passion Saya

Editor: Al Khoriah Etiek Nugraha
GM Grand Sayang Hotel: Melayani Adalah Passion Saya

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Jadi pilihan hidup dan sudah menjadi garis tangannya, kini Marcus Susilarto dipercaya untuk memimpin dan memajukan General Manager Grand Sayang Park Hotel, yang terletak di Jl Manunggal 22, Maccini Sombala Makassar.

Marcus bukanlah orang baru di dunia perhotelan. Ia memiliki backgroun pendidikan hingga pengalaman yang matang. Pria kelahiran Surabaya 18 Juni 1959 ini merupakan alumni National Hotel Institute Bandung. Meski pada zamannya bidang perhotelan masih sepi peminat, hal itu tidak mengurungkan niat Marcus untuk mengambil pendidikan di NHI. Yang kemudian terbukti, kini bidang perhotelan mulai menjadi sasaran para generasi penerus bangsa.

"Dulu belum banyak orang yang memilih pendidikan di bidang ini. Saya memilih food and beverage. Saat itu juga orang-orang tidak banyak melirik, sekarang malah waiting list. Dan memang saya memilih NHI karena pingin cepet kerja waktu itu," kenang Marcus mengingat kembali awal ia menjajaki dunia pehotelan.

Dengan berbekal pengalaman akademik, Marcus pun menjajal dunia kerja melalui kapal pesiar. Tidak main-main, ia bangkan dapat menikmamati sebagian besar sisi dunia melalui kapal pesiar tersebut dalam kurun waktu tidak lama, 3 bulan 90 hari. Namun, keinginan untuk menikah, memaksanya harus kembali menetap di daratan.

"Syarat utama dari almarhumah ibu kalau mau nikah harus kerja di darat. Katanya harus satu payung. Saya pada dasarnya penurut, jadi saya  memutuskan untuk berhenti bekerja di lautan," lanjut Marcus mengingat akan masa mudanya.

Tida langsung mendapat pekerjaan ketika memutuskan kembali "ke darat". Ia akui sempat menanggut beberapa saat. Namun, tidak bermalas-malasan dan berputus asa, pria dengan nama panggilan Kelik ini akhirnya diterima bekerja di California Fried Chiken (CFC) di Jakarta. Saat berhasil menduduki posisi Store Manager, ia pun menjadi atasan dari seorang Mario Teguh, yang kala itu seorang Sales Manager. 

GM Grand Sayang Hotel: Melayani Adalah Passion Saya

"Saya ditempatkan di Jakarta Teather, tidak menyangka punya sales manager Mario Teguh. Tentunya saya tidak tahu kalau beberapa tahun kemudian seorang Mario Teguh jadi seorang yang terkenal, dulu dia kurus banget," kata Marcus, yang sempat melanjutkan menggambarkan sosok Mario Teguh yang dikenalnya sewaktu dulu.

Setelah cukup lama berkarir di CFC, tumbuh keinginan untuk bekerja di hotel. Ia akhirnya melamar pekerjaan di Jakarta Hilton International. Ia cukup lama ditempa di tempat itu, sekira hampir 10 tahun.

"Saya benar-benar di tempa itu di Jakarta. Karena hotel itu tidak ada pesaingnya. Bahkan jumlah karyawannya mencapai 2.000 orang. Di hotel ini saya kebanyakan learning by doing. Di teori tidak dijelaskan tamu komplain makanannya bagaimana mengatasinya. Jadi saya belajar dari pengalaman," jelas Marcus.

Untuk menduduki posisi GM saat ini, Marcus telah kenyang akan asam manis berkarir di perhotelan. Memulai dari posisi waiters kini ia memimpin Grand Sayang. Bekerja dengan pembagian waktu hingga tanpa batas pun ia lalui dengan tetap menikmati setiap proses yang ada.

Belajar Kepemimpinan

Untuk menduduki posisi GM saat ini, Marcus tentu berbekal ilmu leadership. Tidak gratis, ia memperolehnya dengan berbagai cara, dari membaca buku hingga mengikuti seminar-seminar. Salah satu buku andalannya yakni karya John C Maxwell. Adapun quotes yang selalu ia ingat dan membuatnya terus termotivasi adalah, " Everything Rises and Falls on Leadership".

"Seseorang bisa naik dan bisa jatuh hal itu karena kepemimpinan. Jadi harus dijaga. Setiap hari kita harus menjaga, yang disebut dengan intergritas. Syarat menjadi pemimpin salah satunya integritasnya. Apa yang kamu katakan itu yang kamu kerjakan, karena akan banyak yang mengawasi," kata Marcus.

GM Grand Sayang Hotel: Melayani Adalah Passion SayaSeorang pemimpin itu mampu menginspirasi atau mempengaruhi orang-orang untuk satu tujuan. Tetapi kalau sudah jatuh, untuk naik seperti semua sudah tidak bisa. "Kayak saya ini, kalau sampe ada satu noda saja pasti dilaporin mungkin ke pusat," kata Marcus. 

Untuk itu, menurut Marcus, kompetensi sangatlah penting dalam bekerja. Karena dengan kompetensi, seseorang bisa melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan apa yang ditugaskan.

"Orang dikatakan kompeten itu memiliki tiga aspek, yakni harus memiliki skill, harus berpengetahuan, dan yang utama itu attitude. Attitude atau sikap ini yang susah. SDM itu bisa diberikan training untuk skill dan pengetahuannya. Sikap ini yang sedikit sulit, kadang bisa dibetulin. Sikap mengenai kehadiran, cara berdiri, bagaimana men-service," ungkapnya.

Untuk memiliki kompetensi tersebut, ada banyak cara. Salah satunya melalui buku. "Perhotel tidak bisa dianggap sepele, karena ini semi army bagi saya," jelasnya.

Siap Melayani 24 Jam dalam Seminggu

Untuk memajukan hotel Grand Sayang, Marcus tidaklah main-main. Ia bahkan memilih untuk In House di hotel yang ia pimpin tersebut. Meskipun, mungkin, kebanyakan GM enggan untuk melakukan hal itu. Menurutnya dengan tinggal di tempat kerjanya tersebut pelayanannya bisa maksimal.

"Pada saat saya kontrak, saya baru di Sulsel, kalau diterima harus in house. Saya senang, karena tidak perlu bayar kos dan tidak perlu keluar. ada yang tidak senang meskipun dapat fasilitas, atau after jam 6 ndak mau di ganggu, kalo saya silahkan. Jam 2 malam ditelepon, ya udah saya turun. Selalu stand by," ujarnya.

Ia pun tidak marah jika harus diganggu karyawannya jika itu menyangkut hotel. Karena menurutnya itu menjadi bagian tugas dan tanggung jawabnya sebagai pimpinan.

GM Grand Sayang Hotel: Melayani Adalah Passion Saya

"Itu resiko, karena memang tugas saya melayani. Kata kunci di hotel itu melayani. Kalo tidak mau melayani jangan kerja di hotel. Kita punya dua jenis guest. Yakni internal guest seperti karyawan kita dan eksternal guest itu pengunjung hotel. Kita harus melayani, mau tidak mau. Melayani sudah jadi passion saya udah ada, jadi saya tidak ada kata beban. Karena memang passionnya di situ, saya ndak pernah merasa berat. Karena sudah mencintai," bebernya.

Berbagi Ilmu Dengan Karyawan

Enam bulan memimpin Grand Sayang, Marcus juga dikenal rajin berbagi ilmu dengan para bawahannya. Bahkan ia menggelar train the tainer. Ia sadar bahwa tidak ada kata tua untuk belajar. Hal itu juga berlaku dalam dunia perhotelan.

"Anak buah harus berpengetahuan. Dengan cara sharing pengetahuan saya melalui traning. Sekarang saya sudah punya kelas motivator. Train the trainer. Melatih untuk menjadi pelatih," jelasnya.

Ia mengaku dirinya mencapai posisi seperti ini juga berkat belajar. Iapun dulunya adalah seseorang yang takut tampil di depan umum. Untuk menjadi GM, ia berbekal ilmu dan pengalaman hasil sharing dan membaca buku.

"Dulu saya juga begitu, pemalu, dan setelah saya belajar dan dapat ilmu, saya mau memberikan pelatihan di depan ribuan orang no problem. Dulu takut,"kata dia.

Meski kini ia telah berusia hampir lebih setengah abad, ia pun masih gemar berkarya dengan memajukan hotel sebagai hunian masyarakat. Ia pun bersyukur masih bisa bekerja dan melakukan yang terbaik bagi perusahaannya yang dipimpinnya itu.

"Kita berkarya dengan memajukan hotel ini. Minimum saya sudah melakukan yang terbaik. Belajar lagi, tidak ada kata tua untuk belajar," pungkasnya.