Selasa, 16 Agustus 2016 10:22 WITA

Dulu Melawan Penjajah, Kini Jadi Tukang Cukur

Editor: Almaliki
Dulu Melawan Penjajah, Kini Jadi Tukang Cukur
La Hamma

RAKYATKU.COM, PAREPARE - Tatapan matanya masih sangat tajam dengan kulit yang sudah keriput. Ialah sosok La Hamma, seorang tukur cukur yang sehari-harinya mangkal di Pasar Semi Modern, Lakessi.

Pria yang telah menginjak usia 95 tahun ini tentu saja bukanlah tukang cukur biasa. Ya, dia adalah saksi sejarah, seorang tetua yang turut meneteskan keringat dalam mengusir penjajah.

"Dulu waktu Belanda dan Jepang mengusai daerah kita, kami semua bersembuyi di hutan, ketika mereka lewat kita cuma bisa melawan dengan lemparan batu atau bambu runcing. Kalau mereka mati, kita menang. Tapi ketika lemparan meleset, kita menghindar karena kalah persenjataan," kenangnya saat ditemui Rakyatku.com, Selasa (16/8/2016).

Kakek yang dikarunia 11 anak dan 35 cucu dari 4 istri ini mengaku kini melanjutkan hidup dengan gaji veteran yang diterimanya tiap bulan. "Saya terima itu tiap bulan Rp 2,3 juta, tapi karena harga barang makin mahal ya saya nyari tambahan jadi tukang cukur," pungkasnya.

Meskipun anak-anaknya tergolong berhasil, namun dia tak ingin membebani mereka, bekerja dan berjuang adalah didikan alam yang diperolehnya saat masa-masa penjajahan. "Hidup yang sekarang jauh lebih baik daripada pada zaman penjajahan. Meskipun sulit, yang sekarang ini tidak ada apa-apanya," tukasnya.

Dulu Melawan Penjajah, Kini Jadi Tukang Cukur

Tags