Jumat, 26 Agustus 2016 18:48 WITA

Irwan Pagattani

Dari Tukang Cuci Piring Hingga Jadi Chef Executive

Editor: Jumardin Akas
Dari Tukang Cuci Piring Hingga Jadi Chef Executive
Chef Ecxecutive Aston Makassar Irwan Pagattani.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Hidup memang penuh kejutan. Hal itulah yang dirasakan Chef Ecxecutive Aston Makassar Irwan Pagattani. 

Pria kelahiran Makassar, 10 November 1970 ini memulai karir sebagai tukang cuci piring (steward) di salah satu hotel di Makassar.

Ketertarikan Irwan terhadap dunia perhotelan diawali saat ia bekerja 6 bulan sebagai tukang cuci piring. Hingga akhirnya ia dipromosikan untuk pindah ke bagian kitchen karena dianggap memiliki kemampuan.

"Karena sering bantu-bantu memotong sayuran dan lain-lain sehingga saya di promosikan pindah di kitchen sambil belajar masak memasak. Di situlah awalnya saya mulai nyaman dan tertarik," ujarnya saat di temui Rakyatku.com

Setelah berkali-kali berpindah tempat kerja (Hotel). Dengan berbekal kesenangan dan pengalaman, tahun 2004 Irwan memutuskan untuk kuliah mengambil jurusan perhotelan di salah satu universitas swasta di Makassar. 

Ia berharap, bukan hanya pengalaman yang ia dapatkan. Tetapi juga memiliki ilmu di bidangnya.

Setelah lulus kuliah, Irwan mencoba peruntungannya di dunia perhotelan di luar Makassar. Dirinya mencoba pindah ke Medan dan beberapa kota lainnya. 

Kurang lebih 10 tahun berpindah-pindah tahun 2014 dirinya diminta bekerja di Hotel Aston Makassar sampai saat ini dengan Spesialis Menu Western. 

Beliau mengaku sangat menggemari menu seafood dan mengolah ikan dan cumi merupakan keahliannya.

Sebagai seorang yang memulai karirnya dari bawah. Ia memberi pesan agar tak mudah menyerah. 

Ayah dari Fakhirah, Muh.Fadly, Nur Fakhreny dan Faika Vahnisya ini, kini lebih sering berbagi kepada anggota atau stafnya di hotel. Bukan dengan kekerasan saat mendidik di dapur namun dengan ketegasan. Ia mengaku mendekatkan dirinya dengan para stafnya dengan keterampilan yang dimilikinya.

"Ketegasan dalam memimpin itu perlu untuk mendidik, tapi saya lebih suka untuk mempelajari karakter seseorang dan memberi masukan dengan apa yang telah saya ketahui," ujarnya

Semenjak awal bekerja, hal yang paling berkesan menurut suami dari Sunarti ini, adalah meninggalkan Makassar dan bekerja di Medan. Beberapa kendalapun kerap di temui dari perjalanan karirnya. Namun dirinya tidak pernah meyerah.

"Kalau mendapatkan kendala, saya akan terus berusaha bagaimanapun cara memecahkannya dan terus belajar dari kesalahan, dari rajin membaca dan belajar dari kesalahan lah kadang saya menemukan solusinya," ujarnya