Selasa, 20 September 2016 08:50 WITA

Farouk M Betta: Separuh Hidupku untuk Golkar

Editor: Vkar Sammana
Farouk M Betta: Separuh Hidupku untuk Golkar

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Di atas meja bundar kecil, cuma ada segelas teh susu hangat dan kotak tempat tisu. Tempatnya di teras depan Warkop Terminal Kopi, Toddopuli, Senin (19/9/2016) malam, sekira pukul 21.00 Wita.

Penulis menghampiri pria berkacamata itu. Rambutnya dicukur pendek. Kira-kira dua centimeter saja. Penampilannya cukup sederhana. Hanya, mengenakan kemeja lengan panjang corak kotak-kotak berwana merah kombinasi putih. Celana panjangnya berbahan jeans. Warnanya, agak kebiru-biruan.

Nama lengkap pria itu Farouk Mappaselling Betta. Ia akrab disapa Aru. Orangnya bersahaja. Juga, murah senyum. Sejak tahun 2014 lalu, dia dilantik sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar.

Saat bersantai, ia ditemani Husain Djunaid dan Muhammad Taufik; Wakil Direktur Rakyatku.com. Penulis kemudian melempar senyum. Lalu, menyalami. Penulis menyimak pembicaraan ketiganya. Tak ada pembahasan serius, kala itu.

Di tengah pembicaraan, penulis baru saja tahu. Pukul 00.00 Wita nanti, tepatnya tanggal 20 September 2016, di hari itu, putra terkasih dari pasangan Mappaselling Betta dan Hj Asniah ini genap berusia 46 tahun.

Farouk M Betta: Separuh Hidupku untuk Golkar

Putra bungsu dari tujuh bersaudara itu, dilahirkan pada 20 September 1970, silam. Ia lahir di tanah Angin Mammiri, sebutan Kota Makassar. Dahulu, dikenal dengan nama Ujung Pandang.

Sesekali Aru meneguk teh susunya. Sekira pukul 21.30, perbincangann berlanjut. Penulis tertarik menggali lebih dalam soal kariernya di dunia politik.

Ia pun mengungkap, 46 tahun umurnya kini. Ia ternyata sudah menghabiskan separuh hidupnya untuk Partai Golongan Karya (Golkar).

Karier politik Aru di Golkar, dimulai sejak tahun 1993. Waktu itu, ia sudah aktif di Organisasi Sayap (Orsap) Golkar, Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Kota Makassar. Di AMPI, Aru menjadi anggota Satuan Tugas (Satgas) Kesenian AMPI Kota Makassar.

Di masanya yang masih tergolong sangat muda, ia sudah mengikuti dihampir seluruh kegiatan yang digelar AMPI. Wilayah tugasnya, dari Kota Makassar hingga Kabupaten Selayar.

"Saya sudah ikut di tim-tim kesenian yang pada saat itu. Kapasitasnya AMPI sebagai ormas Golkar. Saya mendampingi pelaksanaan kampanye-kampanye Golkar di daerah. Jadi, sampai sekarang, separuh hidupku untuk Golkar," kata Aru bercerita.

Ia melanjutkan, sejak dirinya masih mengenyam bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), dirinya sudah sangat gemar berorganisasi. Setiap hari, Aru mengakui, harus ada waktu yang disiapkan untuk ikut aktif di organisasi yang diikutinya.

Farouk M Betta: Separuh Hidupku untuk Golkar

Kegemaran berorganisasinya, berlanjut hingga ke Perguruan Tinggi. Ia terdaftar sebagai mahasiswa aktif di Fakultas Pertanian, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.

Di sana, lagi-lagi Aru mendapat jabatan istimewa di fakultasnya. Ia berhasil mencatatkan namanya sebagai Sekretaris Senat Mahasiswa Fakultas Pertanian UMI. Namun, tak sedikit pun lupa. Dirinya adalah tetap kader partai beringin.

"Di Golkar itu jenjangnya panjang. Meskipun waktu itu, kontra antara dunia kemahasiswaan dan dunia Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP). Di situ waktunya menanam idealisme. Dan satunya lagi, bagaimana saya menanamkan tentang patron Ke-Golkar-an. Di lain sisi, saya aktif di dunia kemahasiswaan," lanjut Aru.

Kesan yang didapatkan di organisasi banyak. Tak ada kejenuhan bagi Aru untuk aktif dikeduanya.

"Saya senang karena diberikan amanah, kepercayaan, tanggung jawab. Di situ awal kita mengorganisir orang. Mengorganisir kampanye dan kegiatan-kegiatan organisasi di kampus dan di Golkar."

Ceritanya terhenti. Aru tiba-tiba memanggil. Ia menghentikan pria setengah tua di depan Warkop. Pria bertopi hitam itu melintas menggunakan sepeda tuanya. Di bagian belakang, tumpukan kacang rebus, gogos, dan telur asin dijajakan.

"Kecang rebus-ta nah. Kasih gogos sama telurta juga," pinta Aru.

"Berapa harganya semua?," tanya Aru lagi. Dikeluarkannya uang kertas biru. Ada gambar pahlawan I Gusti Ngurah Rai di bagian dalam lipatan uang.

Beberapa biji kacang dibuka, lalu dikunyah. Satu gogos dan satu telur asin melengkapi. Seperempat dari sebotol air mineral mengakhiri.

"Tidak ada paksaan untuk ber-Golkar. Malah kalau demo, bapak saya bilang, silakan. Beliau kasih saya kebebasan," kisah Aru, melanjutkan. "Tapi saya memang besar dari keluarga Golkar. Ayah, om-om saya semuanya Golkar dan politisi."

Ayah Aru, dahulu tercatat sebagai anggota DPRD Kota Makassar dari Fraksi ABRI. Omnya, Mappiabang Betta pernah menjabat sebagai legislator DPRD Sulsel. Juga, mantan Kepala Dinas Perdagangan Sulsel.

Satu lagi Omnya, Said Betta mantan legislator DPR RI. Juga, mantan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulsel. Said Betta juga, pernah menduduki jabatan Ketua Dewan Mahasiswa (Dema) Unhas yang pertama.

Aru pun mengungkap, Said Betta pernah menitip pesan untuk dirinya. "Kalau mau jadi pemuda yang baik, itu harus memadukan antara dunia kemahasiswaan dan dunia kepemudaan," ucap Aru menirukan pesan Said Betta.

Karier politik Aru nampaknya semakin menanjak di Partai Golkar. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Sekretaris DPD II Golkar Makassar (periode 2000-2004). Sekretaris DPD II Golkar Makassar (periode 2004-2014). Di periode Syahrul Yasin Limpo sebagai Ketua DPD I Golkar Sulsel, Aru mejabat sebagai Ketua Bidang Pembangunan Daerah (periode 2015-2016). Saat ini, di pengurus transisi Golkar Sulsel di bawah kepemimpinan Nurdin Halid, Aru diberi jabatan sebagai Wakil Ketua Pemenangan Pemilu Dapil Makassar.

"Jadi, 23 tahun sudah saya di Golkar. Saya betah di Golkar, karena tidak menganut sistem orang per orang. Golkar itu milik semua kader. Tapi kalau sistem bagus, didukung figur yang kuat, itu yang luar biasa," jelasnya.

Ia pun mengaku betah berseragam kuning. Saat ditanya akan sampai kapan aktif di Partai Golkar, begini jawabnya; "Sampai organisasi ini tidak menghendaki saya lagi. Sepanjang organisasi menghendaki, saya akan bekerja. Baik di jajaran struktur, maupun sebagai kader Golkar," katanya, pasti.

Tak lama, handphone-nya berdering. Ada pesan dari SYL. Tak tahu pasti isi pesan Gubernur Sulsel dua periode itu. Yang jelas, intinya, Sang Komandan--sapaan akrab SYL--,memanggil. Aru pun bergegas pergi.