18 November 2016 10:02 WITA

Saling Caci Soal Perbedaan Politik, Ini Masukan dari Ridwan Mandar

Editor: Almaliki
Saling Caci Soal Perbedaan Politik, Ini Masukan dari Ridwan Mandar
Ridwan Mandar

RAKYATKU.COM, POLMAN - Kontestasi lima tahunan di Sulbar, membuat beberapa tim atau para pendukung calon, kini saling menjatuhkan lawan politiknya. Terbukti, perusakan baliho atau Alat Peraga Kampanye (APK) pasangan calon. Juga saling risak di media sosial.

Keadaan miris tersebut lalu ditanggapi Muhammad Ridwan Alimuddin, seorang tokoh Sulbar yang namanya kian besar setelah Perahu Pustaka dan pendiri Armada Pustaka Sulbar, dibincangkan di mana-mana.

"Kalau kita belajar dari sejarah negeri ini, baik negeri Indonesia maupun di Mandar, itu tak lepas dari konflik. Dari sekian konflik itu, banyak yang disebabkan adu domba. Yang teradu domba, tentu tidak tahu dia sedang diadu domba," kata Ridwan.

Saat ini, klaim kebenaran makin marak. Dan yang paling mencolok adalah yang, tadinya saudara atau sahabat, kini saling lepasrangkul dan misuh-musuhan. Hal itu, menurut Ridwan, adalah representasi ketidakdewasaan dalam berdemokrasi.

"Kita memang menempuh pendidikan dan merasa diri seorang demokrat. Saat terlibat dalam proses demokrasi, itu baru kelihatan, sikap demokrat kita itu instan. Instan karena aliran informasi yang begitu cepat dan sepotong-potong lewat dunia maya," kata Ridwan.

Musim politik kini, banyak membentuk ahli dan pakar-pakar instan baru. Karena mereka jua, masyarakat pun ikut terjebak dan terbelah dalam mengidolakan pasangan calon unggulannya, meski belum pernah bertemu.

"Kita menjadi sok pintar. Mengidolakan tokoh, diterjemahkan menjadi kedekatan amat akrab dan pribadi. Padahal, kita sama sekali tidak pernah ketemu dan hanya tahu permukaan. Karena tokohnya sering di media, maka itu tak lebih dari hubungan antara artis dengan fans. Apapun yang dilakukan idola, fans akan tetap dukung," kata Ridwan.

"Kita seperti yang baru selesai belajar silat yang langsung memiliki kelompok persilatan dengan ribuan teman. Orang baru belajar silat itu selalu mau tes, cari lawan, sok jago!"

Di dunia maya juga memberi peluang berlindung dan sembunyi. Itu ruang yang oke untuk orang yang tak percaya diri dan tidak dewasa. Mereka lalu bisa menyulap diri jadi orang-orang yang tampak "cerdas" juga "berani" padahal, tidak sama sekali.

"Hal sederhana yang bisa kita lakukan, kita tak bisa tahu mana kebenaran sejati, jadi diam saja."