Selasa, 20 Februari 2018 07:18 WITA

I Gede Putu Aprianta, Dari Tukang Angkat Koper Kini Jabat Directur of Sales & Marketing

Editor: Al Khoriah Etiek Nugraha
I Gede Putu Aprianta, Dari Tukang Angkat Koper Kini Jabat Directur of Sales & Marketing
I Gede Putu Aprianta (tengah).

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Mengawali karir sebagai Bell Boy, kini I Gede menjabat sebagai Directur of sales & marketing di Hotel Singgasana Makassar.

Tahap demi tahap jabatan dilalui dan dijalani oleh pria kelahiran,mataram 27 april 1977 ini. Dari Bell Boy, ia melanjutkan karir dengan bertugas di bandara untuk melayani tamu yang akan melakukan aktivitas airport, seperti penjemputan ataupun cek tiket. Dari posisi tersebut, ia pun ditarik menjadi seorang repseptionist.

"Berat menjalani dari awal, bahkan pertama kali sempat ada rasa malu mengangkat koper, tapi itu tugas kita melayani tamu. Selain itu, tetap ingin belajar dan sabar itu menjadi prinsip untuk terus berusaha," ungkapnya.

Dari posisi resepsionist, ia pun beralih ke night audit selama tiga tahun. Posisi ini tidak kalah beratnya dengan posisi-posisi sebelumnya. Bagaimana tidak, ia harus begadang semalam suntuk untuk melaksanakan kewajibannya.

"Orang tidur malam kita bekerja, berat memang awalnya, berat sekali," kata I Gede.

Tetapi, dengan tetap tersenyum menjalani profesi tersebut, membuat I Gede pun dilirik oleh para atasannya.

"Paling utama harus tetap senyum. Hal itu utama bagi saya, sehingga para atasan menarik saya ke Duty Manager, dan kemudian saya meneruskan karir di posisi Assistant Front Office Manager," lanjutnya.

I Gede memulai karir di bidang marketing, sejak ditugaskan di Jogja, yakni sebagai Sales Manager. Ia terus menapak hingga menduduki jabatannya saat ini sebagai Director of Sales & Marketing Singgasana Hotel Makassar.

I Gede Putu Aprianta, Dari Tukang Angkat Koper Kini Jabat Directur of Sales & MarketingDari daerah satu ke daerah lain

Tantangan yang harus dihadapi I Gede, bukan hanya dari sulitnya posisi yang harus ia lakoni, tetapi terus berpindah dari satu daerah ke daerah yang lain.

Hampir seluruh pulau besar di Indonesia pernah ia pijak. Berawal dari Bali, ia pun melangkah ke Lombok. Hitungan 1-2 tahun, ia pun kembali berpindah daerah.

Ia menjajal kemampuannya dalam perhotelan di Batam, kemudian dilanjutkan Jogja, Jakarta, dan Medan.

"Kemudian saya kembali ke Lombok, lalu ke Jayapura, dan kini berada di Makassar. Selanjutnya saya belum tahu," ujarnya sembari bercanda.

Keberagaman masyarakat Indonesia, tentunya tidak bisa dipungkiri akan membawa tantangan tersendiri, ketika harus bekerja di kampung orang dan jauh dari keluarga. Keramahan, senyum, ikhlas, dan sabar menjadi resep utama I Gede untuk menjawab tantang tersebut.

"Berat karena tiap daerah punya karakteristik yang berbeda, apalagi kita sendirian, tidak ada keluarga yang mendampingi. Ya pinter-pinter kita aja bergaul dengan masyarakat setempat. Saya yakin, kalau kita baik, ramah, selalu senyum sama orang. Kalo kita ikhlas bantuin orang, ikhlas dalam bekerja, krikil-krikil itu akan hilang," jelas nya.

Di balik tantangan itu, menurut I Gede ada keseruan tersendiri. Kerja sambil berwisata dengan kebudayaan yang berbeda-beda. Untuk itu, dalam membesarkan hotel di tempat tugasnya, ia selalu menerapkan untuk mengangkat kearifan lokal setempat.

"Kita tonjolkan dimana kita berpijak, prinsip saya tonjolkan adat setempat," kata I Gede.

Memasuki persaingan di Makassar

Setelah melalang buana di berbagai daerah di Indonesia, kini Singgasana Makassar menjadi tempat untuk keramahan I Gede.

Menurutnya, Makassar memiliki tantangan tersendiri untuknya. Pasalnya, Makassar sebagai salah satu Kota Metropolitan tentu telah bertebaran hotel-hotel modern, dengan persaingan yang tinggi. Tetapi itu tidak menurunkan semangat I Gede untuk memberikan yang terbaik. Ia berpikir, semakin tinggi persaingan semakin akan semakin menantang untuk kreatif.

"Sempat saya berpikir, Makassar ini kota terbesar loh di Indonesia Timur. Tapi di sisi lain saya tertantang, dan tantangan itu yang saya cari, orang lain bisa kok kita nggak bisa," ujar dia.

"Kalau kita berpikir negatif duluan akan negatif yang kita temui. Kalo berpikir positif, ya positif kita temui," tambahnya.

I Gede kini ditugaskan untuk membuat Singgasana Hotel semakin eksis. Ia pun tetap pada prinsipnya untuk mempertahankan dan menonjolkan kearifan lokal pada hotel tersebut. Hal itu terbukti dengan desain interior dan kuliner Singgasana yang masih dominan merupakan budaya Bugis Makassar.