Senin, 02 April 2018 09:32 WITA

Dekan FKIP Unismuh Rintis Karir dari Buruh Bangunan

Editor: Andi Chaerul Fadli
Dekan FKIP Unismuh Rintis Karir dari Buruh Bangunan
Dekan FKIP Unismuh, Erwin Akib

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Erwin Akib adalah anak keenam dari tujuh bersaudara. Ia terlahir di keluarga sederhana dengan ibu Hamiah yang buta huruf dan ayah Muhammad Akib Tahang, seorang tukang jahit rumahan.

Meski begitu, saat ini, Erwin tengah menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, periode 2017-2021.

Kesuksesan dalam dunia pendidikan tentu tak mudah diraih oleh pria kelahiran 1 Oktober 1976 ini.

Sebelumnya, ia tak pernah berpikir untuk berprofesi sebagai tenaga pengajar. Ia ingin menjadi seorang teknokrat. Namun, ia sempat mengalami beberapa kali penolakan dari salah satu perguruan tinggi ternama di Kota Makassar.

Selepas SMA (1995), Erwin tidak langsung melanjutkan pendidikannya di tingkat universitas, kurang lebih satu tahun ia berhenti. Semasa itu, ia mengambil kursus komputer dan mempermantap bahasa inggrisnya, sembari bekerja sebagai buruh bangunan, untuk menambah biaya kursus yang ia ikuti.

Tapi, kerasnya kehidupan yang ia jalani membuatnya tidak berhenti untuk berusaha mewujudkan mimpi. Di tahun 1996, Ia kemudian memberanikan diri untuk mendaftar di jurusan Bahasa Inggris FKIP  Unismuh Makassar.

"Untuk memacu diri dan menambah pengalaman, tidak hanya sekadar kuliah saja, tapi turut aktif dalam lembaga kemahasiswaan di kampus," kata dia, Senin (2/4/2018).

Dalam kurung waktu 3 tahun 11 bulan, lelaki yang hobi olahraga tenis ini mampu menyelesaikan studinya. Namun, kembali ia menemui tantangan saat ingin melanjutkan pendidikannya di tingkat S2. 

Pasalnya, saat itu pihak kampus tidak memberikan rekomendasi beasiswa.

"Jadi untuk S2, bukan rekomendasi dari Unismuh. Tapi saya ingat pesan KH Ahmad Dahlan, beliau berpesan ketika telah menjadi, master, doktor, dan insinyur kembalilah ke Muhammadiyah. Itulah yang membuat saya mengabdikan diri di kampus ini," jelas dia.

Tak hanya di Indonesia, Erwin juga telah mengenyam pendidikan di beberapa negara lain, seperti Amerika, New Zeland dan Malaysia. 

Di Amerika, Erwin sempat mengalami masalah dengan kesehatannya. Ia divonis mengidap kanker otak. 

Sehingga, masa pendidikan yang ia jalani di sana, hanya satu semester saja, karena ia dianjurkan untuk fokus pada pengobatan.  

"Di Malaysia, saya menemukan banyak hal untuk mengembangkan diri sebagai tenaga dosen, dimana sangat diperlukan kehadiran peneiliti dan pemerhati pendidikan," tukasnya.

Kepada Rakyatku.com, Erwin mengaku, saat pertama kali melakukan perjalanan untuk menimba ilmu di Amerika, ia sempat meneteskan air mata karena tak tak menyangka ia bisa mencapai hal tersebut.

Menurutnya, apa yang diraih saat ini, atas sifat kedisiplinan yang diwariskan oleh kedua orangtuanya. Sehingga ia serta saudara-saudaranya tidak pernah menyerah untuk menghadapi setiap tantangan.

Ia menambahkan, masih banyak cita-citanya yang belum tercapai, sehingga, setelah masa periodenya sebagai dekan telah berakhir, ia ingin mengikuti postdoctoral, untuk me-refresh ilmunya di luar negeri.

"Satu yang selalu saya tekankan, walaupun sata telah mencapai paripurna dalam dunia akademik, tapi bukan berarti harus berhenti untuk belajar," pungkasnya.